Pembuatan dan SIfat Koloid

Posted: Oktober 11, 2010 in Kimia

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensi ( larutan kasar ). System koloid ini mempunyai sifat-sifat khas yang berbeda dari sifat larutan ataupun suspensi. Keadaan koloid bukan ciri dari zat tertentu karena semua zat, baik padat, cair maupun gas, dapat dapat dibuat dalam keadaan koloid.

Karena kebanyakan zat dapat berada dalam keadaan koloid, semua cabang ilmu kimia berkepentingan dengan kimia koloid dalam satu atau lain cara. Semua jaringan hidup berdifat koloidal. Banyak reaksi kimia yang kompleks yang perlu untuk kehidupan, harus ditafsirkan secara kimia koloid. Bagian kerak bumi yang dikatakan sebagai tanah yang bias dicangkul terdiri dari bagian-bagian yang bersifat koloid,  oleh karena itu ilmu tanah harus mencakup penerapan kimia kolois pada tanah. Dalam industri, ilmu koloid penting dalam industri cat, keramik, plastic, tekstil, kertas, dan film foto, lem, tinta, semen, karet, kulit, bumbu selada, mentega, kkeju dan makanan lain, pelumas, sabun, obat semprot pertanian dan insektisida, detergen, gel dan selai, perekat dan sejumlah besar produk lainnya.proses seperti memutihkan, menghilangkan bau, menyamak, mewarnai dan pemurnian serta pengapungan bahan galian, melibatkan adsorpsi pada permukaan materi koloid dan karena itu  berkepentingan dengan kimia koloid.

Oleh karena itu sangat penting dilakukannya praktikum mengenai sistem koloid ini mengingat begitu banyak kegunaannya serta begitu erat dengan hidup dan kehidupan kita sehari-hari.

Thomas Graham banyak mempelajari tentang kecepatan difusi (gerak) partikel materi sehingga ia dapat merumuskan hukum tentang difusi. Dengan pengamatannya, ternyata gerakan partikel zat dalam larutan ada yang cepat dan lambat. Umumnya yang berdifusi cepat adalah zat yang berupa kristal sehingga disebut kristaloid, contohnya NaCl dalam air. Tetapi istilah ini tidak popular, karena ada zat yang bukan kristal berdifusi lebih cepat contohnya NaCl dalam H2SO4 yang lambat berdifusi disebabkan oleh partikelnya mempunyai daya tarik (perekat) satu sama lain. Dalam kehidupan sehari-hari banyak kita jumpai zat yang sukar digolongkan sebagai zat padat, zat cair, atau zat gas. Zat-zat ini dalam ilmu dinamakan koloid. Contohnya antara lain susu, tinta, cat, sabun, kanji, minyak rambut, bahkan udara berdebu termasuk system koloid.

Percobaan ini dilatarbelakangi oleh proses pembentukan partikel koloid, sehingga diperlukannya percobaan ini agar lebih luas pengetahuan tentang koloid.

 

1.2 Tujuan Percobaan

-     Mengetahui beberapa sifat koloid

-     Mengetahui cara pembuatan koloid

-     Mengetahui fungsi norit pada percobaan adsorpsi

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

 

 

Koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan campuran kasar. Meskipun secara makrokopis koloid tampak homogen, tetapi koloid digolongkan ke dalam campuran heterogen. Campuran koloid pada umumnya bersifat stabl dan tidak dapat disaring. Ukuran partikel koloid terletak antara 1 nm – 100 nm. Sistem koloid terdiri atas terdispersi dengan ukuran tertentu dalam medium pendispersi. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan disebut medium dispersi. Fase terdispersi bersifat diskontinu ( terputus-putus ), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. ( Keenan, 1984 )

Dalam campuran homogen dan stabil yang disebut larutan, molekul, atom, ataupun ion disebarkan dalam suatu zat kedua. Dengan cara yang agak mirip, materi koloid dapat dihamburkan atau disebarkan dalam suatu medium sinambung, sehingga dihasilkan suatu disperse ( sebaran ) koloid atau sistem koloid. Selai, mayones, tinta cina, susu dan kabut merupakan contoh yang dikenal. Dalam sistem-sistem semacam itu, partikel koloid dirujuk sebagai zat terdispersi

( tersebar ) dan materi kontinu dalam mana partikel itu tersebar disebut zat pendispersi atau medium pendispersi. ( Arsyad, 2001 )

 

Zat

terdispersi

Zat

pendispersi

Nama

tipe

Contoh

 

Gas

 

Gas

 

Cairan

 

Cairan

 

Cairan

 

 

Padat

 

Padat

 

Padat

 

Cairan

 

Padat

 

Gas

 

Cairan

 

Padat

 

 

Gas

 

Cair

 

Padat

Busa

 

Busa padat

 

Aerosol padat

 

Emulsi

 

Emulsi padat

 

 

Aerosol padat

 

Sol

 

Sol padat

Krim kocok, busa bir, busa sabun.

Batu apung, karet busa.

 

Kabut, awan.

 

Mayones, susu.

 

Keju ( lemak mentega didispersikan dalam kasein ), mentega.

Asap, debu.

 

Kebanyakan cat, pati dalam air, selai.

Banyak aliase, intan hitam, kaca rubi.

 

a    Aerosol

Sistem koloid dari partikel padat atau cair yang terdispersi dalam gas disebut aerosol. Jika zat yang terdispersi berupa zat padat, disebut aerosol padat; jika zat yang terdispersi berupa zat cair, disebut aerosol cair.

Contoh aerosol padat : asap dan debu dalam udara.

Contoh aerosol cair    : kabut dan awan

Dewasa ini banyak produk dibuat dalam bentuk aerosol seperti semprot rambut ( hair spray ), semprot obat nyamuk, parfum, cat semprot, dan lain-lain. Untuk menghasilkan aerosol diperlukan suatu bahan pendorong ( propelan aerosol ). Contoh bahan pendorong yang banyak digunakan adalah senyawa klorofluorokarbon ( CFC ) dan karbon dioksida. ( Keenan, 1984 )

 

b    Sol

sistem koloid dari partikel padat yang terdispersi dalam zat cair disebut sol. Koloid jenis sol banyak kita temui dalam kehidupan sehari-hari maupundalam industri.

Contoh sol : air sungai ( sol dari lempung dalam air ), sol sabun, sol detergen, sol kanji, tinta tulis dan cat ( Keenan, 1984 )

 

c    Emulsi

Sistem koloid dari zat cair yang terdispersi dalam zat cair lain disebut emulsi. Syarat terjadinya emulsi ini adalah kedua jenis zat cair itu tisak saling melarutkan. Emulsi dapat digolongkan kedalam dua bagian, yaitu emulsi minyak dalam air ( M / A ) atau emulsi air dalam minyak ( A / M ). Dalam  hal ini, minyak diartikan sebagai semua zat cair yang tidak bercampur dengan air.

Contoh emulsi minyak dalam air ( M / A ) : santan, susu dan lateks.

Contoh emulsi air dalam minyak ( A / M ) : mayonaise, minyak bumi dan minyak ikan. ( Keenan, 1984 )

 

d   Buih

Sistem koloid dari gas yang terdispersi dalam zat cair disebut buih. Seperti halnya dengan emulsi, untuk menstabilkan buih diperlukan zat pembuih, misalnya sabun, detergen, dan protein. Buih dapat dibuat dengan mengalirkan suatu gas kedalam zat cair yang mangandung pembuih. ( Keenan, 1984 )

 

e    Gel

Koloid yang setengah kaku ( antara padat dan cair ) disebut gel. Contoh : agar-agar, lem kanji, selai, gelatin, gel sabun, dan gel silica. Gel dapat terbentuk dari suatu sol yang zat terdispersinya mengadsorpsi medium dispersinya sehingga terjadi koloid yang agak padat.

 

SIFAT – SIFAT KOLOID

1)      Efek Tyndall

Pernah kita amati cahaya dihamburkan oleh partikel-partekil debu bila seberkas cahaya matahari memasuki suatu kamar gelap, lewat pintu yang terbuka sedikit atau lewat suatu celah. Partikel debu, banyak diantaranya terlalu kecil untuk dilihat, akan nampak sebagai titik-titik terang dalam suatu berkas cahaya. Bila partikel itu memang berukuran koloid, partikel itu sendiri tidak nampak; yang terlihat ialah cahaya yang dihamburkan oleh mereka. Hamburan cahaya itu disebut efek tyndall. Ini disebabkan  oleh fakta bahwa partikel kecil menghamburkan cahaya dalam segala arah.

Efek tyndall dapat digunakan untuk membedakan dispersi koloid dan suatu larutan biasa, karena atom, molekul, ataupun ion yang berbeda dalam suatu larutan tidak menghamburkan cahaya secara jelas dalam contoh-contoh yang tebalnya tak seberapa. Penghamburan cahaya tyndall dapat menjelaskan betapa buramnya dispersi koloid. Misalnya, meskipun baik minyak zaitun maupun air itu tembus cahaya, dispersi koloid dari kedua zat ini nampak seperti susu.

 

2)      Gerak Brown

Jika suatu mikroskop optis difokuska pada suatu dispersi koloid pada arah yang tegak lurus pada berkas cahaya dan dengan latar belakang gelap, akan nampak partikel-partikel koloid, bukan sebagai partikel dengan batas yang jelas, melainkan sebagai bintik yang berkilauan. Dengan mengikuti bintik-bintik cahaya yang dipantulkan ini, orang dapat melihat bahwa partikel koloid yang terdispersi ini bergerak terus-menerus secara acak menurut jalan yang berliku-liku. Gerakan acak partikel koloid dalam suatu medium pendispersi ini disebut gerakan brown, menurut nama seorang ahli botani Inggris, Robert Brown, yang mempelajarinya dalam tahun 1827.

3)      Adsorpsi

Materi dalam keadaan koloid mempunyai luas permukaan yang sangat besar. Pada permukaan partikel terdapat gaya van der waals yang belum terimbangi atau bahkan gaya valensi yang dapat menarik dan mengikat atom-atom ( atau molekul-molekul atau ion-ion ) dari zat asing. Adhesi zat-zat asing ini pada permukaan suatu partikel disebut adsorpsi. Zat-zat teradsorpsi terikat dengan kuat dalam lapisan-lapisan yang biasanya tebalnya tidak lebih dari satu atau dua molekul ( atau ion ). Banyaknya zat asing yang dapat diadsorpsi bergantung pada luasnya permukaan yang tersingkap. Meskipun adsopsi merupakan suatu gejala umum dari zat padat, adsorpsi ini teristimewa efisiensinya dengan materi koloid yang disebabkan oleh besarnya luas permukaan itu. Sifat adsorpsi dari koloid ini digunakan dalam berbagai proses, antara lain sebagai berikut.

  1. Pemutihan Gula Tebu

Gula yang masih berwarna dilarutkan dalam air kemudian dialirkan melalui tanah diatomae dan arang tulang. Zat-zat warna dalam gula akan diadsorpsi sehingga diperoleh gula yang putih bersih.

  1. Norit

Norit adalah tablet yang terbuat dari karbon aktif Norit didalam usus norit membentuk sistem koloid yang dapat mengadsorpsi gas atau zat racun.

  1. Penjernihan Air

Untuk menjernihkan air dapat dilakukan dengan menambahkan tawas atau aluminium sulfat. Didalam air, aluminium sulfat terhidrolisis membentuk Al(OH)3 yang berupa koloid. Koloid Al(OH)3 ini dapat mengadsorpsi zat-zat warna atau zat pencemar dalam air.

 

4)      Koagulasi

Telah disebutkan bahwa koloid distabilkan oleh muatannya. apabila muatan koloid dilucuti maka kestabilan akan berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi atau penggumpalan. Pelucutan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahkan kedalam sistem koloid. Apabila arus listrik dialirkan cukup lama kedalam sel elektroforesis maka partikel koloid akan digumpalkan ketika mencapai elektrode. Jadi, koloid yang bermuatan negatif akan digumpalkan di anode, sedangkan koloid yang bermuatan positif digumpalkan di katode.

Beberapa contoh koagulasi dalam kehidupan sehari-hari dan industri:

  1. Pembentukan delta di muara sungai terjadi karena koloid tanah liat ( lempung ) dalam air sungai mengalami koagulasi ketika bercampur dengan elektrolit dalam air.
  2. Karet dalam lateks digumpalkan dengan menambahkan asam format.
  3. Lumpur koloidal dalam air sungai dapat digumpalkan dengan menambahkan tawas. Sol tanah liat dalam air sungai biasanya bermuatan negatif sehingga akan digumpalkan oleh ion Al3+ dari tawas ( aluminium sulfat )
  4. Asap atau debu dari pabrik / industri dapat digumpalkan dengan alat koagulasi listrik.

 

5)      Koloid Pelindung

Pada beberapa proses, suatu koloid harus dipecahkan. Misalnya, koagulasi lateks. Dilain pihak, koloid perlu dijaga supaya tidak rusak. Suatu koloid dapat distabilkan dengan mmenambahkan koloid lain yang disebut koloid pelindung. Koloid pelindung akan membungkus partikel zat terdispersi sehingga tidak dapat lagi mengelompok.

Contoh :

  1. pada pembuatan es krim digunakan gelatin untuk mencegah pembentukkan kristal besar es atau gula.
  2. Cat dan tinta dapat bertahan karena menggunakan suatu koloid pelindung.
  3. Zat-zat pengemulsi, seperti sabun dan detergen, juga tergolong koloid pelindung.

6)      Dialisis

Pemisahan ion dari koloid dengan difusi lewat pori-pori suatu selaput semipermeabel disebut dialisis. Pori-pori itu biasanya berdiameterkurang dari 10 Å dan membiarkan lewatnya molekul air dan ion-ion kecil. Selaput hewani alamiah, kertas perkamen, selofan dan beberapa plastic sintetik merupakan bahan selaput yang sesuai. Partikel-partikel yang melewati membran agaknya berlaku demikian tidak sekedar berdasarkan difusi acak. Mereka teradsorpsi pada permukaan membran dan bergerak dari letak ( site ) adsorben yang satu ke yang lain pada waktu mereka bergerak melewati pori-pori itu. ( Oxtoby, 2001)

Larutan koloid dapat dibuat dengan dua cara yaitu :

1. Kondensasi

Kondensasi adalah penggabungan partikel – partikel halus ( molekuler ) menjadi partikel yang lebih besar. Pembuatan koloid dengan cara ini dilakukan melalui :

a. Cara Kimia

Partikel koloid dibentuk melalui reaksi – reaksi kimia, seperti reaksi hidrolisis, reaksi reduksi oksidasi, atau reaksi subtitusi.

-     Hidrolisis : Merupakan reaksi suatu zat dengan air

-     Reaksi Redoks : Merupakan reaksi yang disertai perubahan biloks

-     Reaksi Subtitusi : Merupakan reaksi penggantian, misalnya ion

b. Cara Fisika

Dilakukan dengan jalan menurutkan kelarutan dari zat terlarut, yaitu dengan jalan pendinginan atau mengubah pelarut sehingga terbentuk satu sol koloid.

 

2. Dispersi

Pembuatan koloid dengan cara dispersi merupakan pemecahan partikel – partikel kasar menjadi partikel yang lebih halus/lebih kecil dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi atau dengan loncatan bunga listrik ( listrik busur breding ).

a. Cara Mekanik

Dengan cara ini butir – butir kasar digerus dengan lumpang atau penggiling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu kemudian diaduk dengan medium dispersi.Contoh : Sol belerang dibuat dengan menggerus serbuk belerang bersama – sama dengan suatu zat inert ( seperti gula pasir ) kemudian mencampur serbuk halus dengan air

 

b. Peptisasi

Pembuatan koloid dengan cara peptisasi adalah membuat koloid dari butir – butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi ( pemecahan ). Contoh : Agar – agar dipeptisasi oleh air, nitroselulosa oleh aseton, karet oleh bensin dan lain – lain. ( Oxtoby, 2001 )

 

 

 

 

 

 

BAB 3

METODOLOGI PERCOBAAN

 

3.1 Alat dan Bahan

3.1.1        Alat-alat :

-    Gelas Ukur

-    Labu Erlenmeyer

-    Tabung Reaksi

-    Corong Kaca

-    Kertas saring

-    Pipat tetes

 

3.1.2 Bahan Bahan

-    Sirup jeruk

-    Norit

-    AgNO3

-    NaCl

-    HNO3

-    Aquades

-    I2

-    Tepung kanji

-    Gelatin

-    Fe (OH)3

-    K3Fe (CN)6

 

3.2 Prosedur Kerja

3.2.1 Koagulasi

- Dicampurkan 1 ml AgNO3 dengan 1 ml NaCl kedalam tabung reaksi

- Ditambahkan 5 tetes HNO3 kedalam tabung reaksi tersebut

- Diamati perubahan yang terjadi

 

3.2.2 Dispersi

- Dicampurkan 2 sendok kanji dengan 10 ml air, diaduk hingga merata

- Ditambahkan 2 tetes I2

- Diamati perubahan yang terjadi

 

3.2.3    Adsorpsi

- Diletakkan norit secukupnya pada kertas saring yang diletakkan pada corong kaca

- Dituangkan 1 ml jus jeruk/sirup jeruk kedalam kertas saring tadi

- Diamati perubahannya

 

3.2.4    Koloid Pelindung

- Dimasukkan 10 tetes Fe (OH)3 kedalam tabung reaksi

- Diteteskan 2 tetes gelatin, sambil diamati

- Diteteskan lagi 2 tetes K3Fe (CN)6

- diamati perubahannya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB 4

PEMBAHASAN

 

4.1 Pembahasan

Suatu larutan koloid fase-fasenya tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan biasa atau dengan dibiarkan mengendap, susah untuk mengambil suatu batasan dari sistem koloid. Pengertian koloid sendiri adalah campuran dua atau lebih zat yang salah satu fasenya tersuspensi sebagai sejumlah besar partikel yang sangat kecil dalam fase kedua. Zat yang terdispersi dan medium penyangganya dapat berupa kombinasi gas, cairan atau padatan.

Sistem koloid sebagai satu gejala dan bentuk fisik suatu materi. Sistem koloid atau zat yang terpecah halusdidalam suatu medium atau pelarut disebut zat terdispersi, sedangkan pelarutya disebut zat pendispersi atau medium pendispersi.

Ada 3 sistem koloid berdasarkan fase terdispersi atau medium pendispersi :

  1. Sistem Dispersi Molekuler ( Sistem larutan / larutan sejati )

Adalah partikel – partikel zat yang didispersikan lebih kecil dari 1 milimikron

2.   Sistem Dispersi Halus

Adalah partikel – partikel zat yang didispersikan berukuran antara 1 sampai   dengan 100 milimikron

3.   Sistem Dispersi Kasar ( Suspense )

Adalah partikel – partikel zat yang didispersikan lebih besar dari100 milimikron

 

 

 

 

Perbedaan antara koloid – suspensi – larutan

Jenis Suspensi Koloid Larutan
1. Ukuran Partikel

2. Penyaringan

- Biasa

- Ultra

3. Mengendap

- Dibawah pengaruh  gaya berat

- Sentrifuge

4. Diffusi

5. Gerak Brown

> 0,1µ

 

- Dapat dipisahkan

- Dapat

 

- Mengendap

 

- Mengendap

- Tak terjadi

- Mungkin terlihat

0,1 – 1 µ

 

- Tak dapat

- Dapat

 

- Tak Mengendap

 

- Mengendap

- Lambat

- Terlihat

<1mµ

 

- Tak dapat

-  Tak dapat

 

- Tak Mengendap

 

 

- Cepat

- Tak terlihat

 

Gerak pada suatu sistem koloid satu fase tersebar didalam fase lainnya. Fase tersebar itu disebut fase terdispersi atau fase dalam dan fase ini biasanya merupakan bagian kecil dari sistem koloid. Fase dimana fase terdispersi tersebar disebut medium dispersi atau fase luar dan biasanya merupakan bagian terbesar dari koloid.

Setiap fase pada suatu koloid dapat terdiri dari fase padat, fase cair atau gas dengan kekecualian kedua fase tidak dapat berupa gas karena dua macam gas dapat bercampur dengan baik membentuk suatu larutan.

Larutan koloid dapat dibuat dengan dua cara yaitu

1. Kondensasi

Kondensasi adalah penggabungan partikel – partikel halus ( molekuler ) menjadi partikel yang lebih besar. Pembuatan koloid dengan cara ini dilakukan melalui :

a. Cara Kimia

Partikel koloid dibentuk melalui reaksi – reaksi kimia, seperti reaksi hidrolisis, reaksi reduksi oksidasi, atau reaksi subtitusi.

-     Hidrolisis : Merupakan reaksi suatu zat dengan air

-     Reaksi Redoks : Merupakan reaksi yang disertai perubahan biloks

-     Reaksi Subtitusi : Merupakan reaksi penggantian, misalnya ion

b. Cara Fisika

Dilakukan dengan jalan menurutkan kelarutan dari zat terlarut, yaitu dengan jalan pendinginan atau mengubah pelarut sehingga terbentuk satu sol koloid.

 

2. Dispersi

Pembuatan koloid dengan cara dispersi merupakan pemecahan partikel – partikel kasar menjadi partikel yang lebih halus/lebih kecil dapat dilakukan secara mekanik, peptisasi dan sebagainya.

a. Cara Mekanik

Dengan cara ini butir – butir kasar digerus dengan lumpang atau penggiling koloid sampai diperoleh tingkat kehalusan tertentu kemudian diaduk dengan medium dispersi.

 

b. Peptisasi

Pembuatan koloid dengan cara ini adalah membuat koloid dari butir – butir kasar atau dari suatu endapan dengan bantuan suatu zat pemeptisasi ( pemecahan ).

Pada percobaan koagulasi, dibuat 1 mL AgNO3, 1 mL NaCl dan 5 tetes HNO3 pada sebuah tabung reaksi. Setelah larutan didiamkan terdapat gumpalan dan larutan yang keruh didasar bejana.

Pada percobaan dispersi, dibuat 2 sendok kanji dengan air kemudian ditetesi I2 sebanyak 2 tetes, larutan yang awalnyaberwarna putih susu, berubah menjadi biru keunguan.

Pada percobaan adsorpsi, sirup disaring diatas kertas saring yang berisi norit. Fungsi penyaringan pada percobaan ini yaitu menyaring partikel – partikel koloid agar didapat larutan hasil penyaringan yang lebih jernih. Norit adalah tablet yang terbuat dari senyawa karbon aktif, didalam usus norit membentuk sistem koloid yang dapat mengadsorpsi gas atau zat racun. Fungsi norit adalah sebagai absorber atau menyerap warna. Partikel norit memiliki kemampuan mengadsorpsi partikel – partikel pada permukaannya baik partikel netral atau bermuatan karena mempunyai permukaan yang luas. Oleh karena itu, sirup yang semula berwarna pekat, setelah disaring menjadi lebih muda warnanya.

Pada percobaan koloid pelindung, larutan Fe(CO)3 yang awalnya berwarna kuning, berubah warna menjadi lebih bening setelah ditambahkan 2 tetes gelatin dan menjadi / membentuk gumpalan, tetapi setelah ditambahkan lagi 2 tetes K3Fe(CN)6 larutan tersebut berubah menjadi biru kehitaman dan menjadi encer atau gumpalan yang terbentuk tadi hilang. Hal ini terjadi karena K3Fe(CN)6 berfungsi sebagai koloid pelindung yaitu koloid yang dapat melindungi koloid lain dari proses penggumpalan.

Koagulasi adalah penggumpalan partikel koloid. Koloid dapat distabilkan oleh muatannya, tetapi apabila muatan koloid dilucuti maka kestabilan akan berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi/penggumpalan.

Dispersi adalah pembuatan koloid dengan cara pemecahan partikel – partikel kasar menjadi partikel yang lebih halus/lebih kecil yang dapat dilakukan secara mekanik atau peptisasi.

Adsorpsi adalah proses penyerapan zat/partikel/molekul pada permukaan dari zat tersebut sehingga koloid akan memiliki muatan listrik.

Koloid pelindung adalah koloid yang dapat melindungi koloid lain dari proses koagulasi atau penggumpalan. Ada beberapa koloid pelindung yang digunakan pada emulsi misalnya,casein dalam susu.

Reagen dalam percobaan ini yaitu HNO3, fungsi reagen dalam percobaan ini yaitu sebagai penitran yang menentukan mol ekuivalen penitran sama dengan mol ekuivalen yang dititran dan untuk mengetahui apakah penitran dan yang dititran telah mencapai volume yang sama atau belum.

 

 

 

 

 

 

 

BAB 5

PENUTUP

 

5.1 Kesimpulan

- Sifat – sifat koloid yang kita ketahui dari percobaan ini yaitu koagulasi ialah penggumpalan partikel koloid, Adsorpsi ialah penyerapan ion atau senyawa lain pada permukaan koloid, Dispersi ialah memperkecil gumpalan zat besara dengan pengocokan, Koloid pelindung ialah koloid yang dapat melindungi koloid lain dari proses penggumpalan

- Cara – cara untuk membuat koloid antara lain kondensasi dan dispersi

- Fungsi norit pada percobaan ini adalah sebagai absorber yaitu menyerap warna sehingga warna larutan yang diberi norit dapat menjadi lebih jernih

 

5.2 Saran

Sebaiknya percobaan mengenai pembuatan koloid ini ditambah. Tidak hanya koagulai, dispersi, adsorpsi dan koloid pelindung saja, tetapi juga percobaan aerosol, sol dan lain sebagainya. Agar pengetahuan praktikan mengenai koloid bertambah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Arsyad, M.Natsir.2001.Kamus Kimia Arti dan Penjelasan Istilah.Gramedia : Jakarta

 

W. Keenan, Charles.Donald C. Klienfelter dan Jese H.Wood.1990.Ilmu Kimia Untuk Universitas, Jilid 1, Edisi keenam.Erlangga : Jakarta

 

W. Oxtoby, David.H.P Gillis dan Norman.H.Nachtrieb.2001.Prinsip-Prinsip Kimia Modern, Jilid 1, Edisi keempat.Erlangga : Jakarta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s